Catatan: Andy Surya
SEMINGGU terakhir, rakyat Natuna rindu, kata tegas Menteri Kelautan dan Perikanan RI, yaitu: tenggelamkan. Kata menjadi fenomenal, bukan hanya di kancah tingkat kabupaten, seperti Natuna, atau tingkat nasional, melainkan hingga dunia. Kata tenggelamkan sempat viral lima tahun lalu itu, kini bagai hilang ditelan ombak Laut Natuna Utara, atau Laut China Selatan.
Ya, Menteri dengan kata fenomenal itu, telah tidak menjabat lagi. Meski tidak menjabat, namanya tetap terpatri di sanubari rakyat Natuna, kabupaten kepulauan perbatasan ditengah negara Asean ini. Susi Pudjiastuti, nama Menteri Kelautan dan Perikanan itu.
Sebenarnya kata tenggelamkan, bukan hanya kisah kaleng-kaleng. Kata itu nyata, diperuntukan bagi kapal ikan asing berani mencuri ikan di laut Indonesia, tidak terkecuali di Laut Natuna Utara. Kata sesuai perbuatan, membuat kecut kapal asing mencuri ikan Indonesia.
Kapal ikan asing pencuri ikan ditangkap, berkekuatan hukum tetap, tanpa basa basi, Susi instruksikan jajarannya segera tenggelamkan. Tidak hanya instruksi, hampir 99 persen, menteri pemberani itu akan turun lapangan, turut memantau penenggelaman.
Akibat kebijakannya, lima tahun lalu, hasil tangkapan nelayan, khusus Natuna, melimpah ruah. Saking melimpah ruah, bukan hanya nelayan tradisional kelaut, para pejabat pun iseng-iseng ikut mancing ikan. Tapi sejak Susi tidak menjadi menteri lagi, kata tenggelamkan hanya legenda. Sebab menteri pengganti Susi mungkin mempunyai kebijakan lain.
Atas kebijakan lain itu, membuat kapal ikan asing pencuri ikan merasa senang. Beramai ramai, menggasak ikan Laut Natuna Utara. Kapal ikan tradisional asal Natuna hanya bisa menatap tanpa bisa berbuat apa-apa.
Karena nelayan tradisional itu merasa terancam jiwanya. Bukan rahasia, kapal ikan asing pencuri ikan di Laut Natuna Utara sangat kejam. Kalau merasa terganggu, mereka tidak segan-segan menabrak kapal tradisional pemilik laut NKRI ini.
Lalu, kemana keberadaan negara, ketika kedaulatan laut dan rakyat terancam dari kapal ikan asing pencuri ikan di Laut Natuna Utara? Apa diam, membiarkan kedaulatan dan harga diri negara terinjak-injak. Atau ada oknum-oknum tertentu mendapat keuntungan, sehingga membiarkan kedaulatan negaranya disepelekan.
Tidak terdengar kata, kapal ikan asing mencuri ikan Indonesia, harus ditenggelamkan. Rakyat Natuna atau Indonesia jelas rindu mendengar kata-kata itu. Jangankan kapal ikan asing mencuri ikan, sampai tidak makan ikan pun, mau ditenggelamkan oleh Susi. Biar pun bahasa bercanda tidak makan ikan ditenggelamkan, kata tenggelamkan, tetap menjadi penyemangat bagi nelayan Natuna saat mencari ikan di laut sendiri.
Natuna, sebuah kabupaten sangat rawan dari kepentingan negara Asing. Letaknya paling utara selat Karimata, berbatasan sejumlah negara, seperti Vietnam, Kamboja, Brunai, Malaysia, Singapura, Malaysia Timur, dan negara lain. Berada di jalur pelayaran internasional Hongkong, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.
Kabupaten kepulauan kaya minyak, gas dan sumber perikanan itu sangat strategis. Jadi Pemerintah Republik Indonesia harus bijak mengelolanya. Jangan sia-siakan kesempatan dengan strategis negeri seribu pulau itu. ****