kabarterkini.co.id, NATUNA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Natuna melaksanakan kegiatan konservasi kawasan tangkapan air di sekitaran Embung Desa Teluk Buton, Kecamatan Bunguran Utara, Sabtu pagi 26 Oktober 2019.
Konservasi atau melestarikan kawasan tangkapan air, sesuai visi dinas itu, demi terwujud pembangunan berkelanjutan dalam wawasan lingkungan hidup, menuju masyarakat kabupaten perbatasan ini, cerdas serta mandiri dalam kerangka keimanan dan budaya tempatan.
Sekretaris DLH Natuna Faisal dalam keterangan mengatakan, kegiatan Konservasi, salah satu program peningkatan kawasan tangkapan air dan sumber daya air di Kecamatan Bunguran Utara pada 2019.
Dalam kegiatan, dilaksanakan penanaman seribu pohon ketapang, mentangor dan pucuk merah. Tujuan penanaman, kata Faisal, “Kita akan mengubah kawasan tandus menjadi lebih hijau dan indah.”
Sementara dalam pelaksanaan program, mantan Direktur Utama RSUD Natuna itu, beserta seluruh staf DLH Natuna, dengan menggunakan sejumlah kendaraan roda dua dan empat bergerak dari Ranai ke Embung Desa Teluk Buton. Lebih kurang 70 kilometer jarak tempuh.

Di Embung, Camat Bunguran Utara Izhar dengan sejumlah pegawai dan masyarakatnya, telah menunggu. Rupanya, orang nomor satu di Kecamatan Bunguran Utara itu, ingin memberi contoh pada masyarakat, tentang pentingnya melestarikan alam, demi masa depan generasi akan datang.
“Natuna, kabupaten berada di perbatasan sejumlah negara luar, dianugerahi berbagai macam keindahan alam, kita wajib melestarikan flora dan faunanya,” sahut Faisal. “Sehingga keindahan alam ini, dapat turut mendongkrak destinasi wisata di canang Pemerintah Kabupaten Natuna, melalui Dinas Pariwisata.”
Dinasnya, menurut Faisal, harus senantiasa mendukung program destinasi wisata Natuna. Dengan cara, terus melestarikan alam. Dalam pelestarian ini, bukan hanya mendukung pelestarian alam, bakal membawa manfaat dalam meningkatkan kawasan serapan air.
“Ketika kita tak melestarikan alam, berbagai ancaman akan datang didepan mata, misal: kesulitan air bersih, tanah longsor, banjir dan bencana lainnya,” ungkap Faisal. “Bencana alam banyak terjadi di berbagai wilayah Indonesia, seperti tanah longsor atau banjir.”
Beberapa faktor membuat tanah longsor, katanya, antara lain, tingginya intensitas hujan, kemiringan tanah tak dibarengi penghijauan, penebangan liar dan sistem pertanian tak memperhatikan kestabilan tanah. Sedangkan, banjir bisa disebabkan berkurangnya kawasan resapan air, dan kurang baiknya saluran pembuangan air.

Oleh karena itu, untuk menghindari bencana alam, diperlukan tindakan pelestarian alam, seperti menanam pohon hingga konservasi alam. Dalam penanaman pohon, baiknya memilih jenis pohon dapat menyerap air dengan optimal, diantaranya, pohon ketapang, mentangor dan pucuk merah.
Ketiga jenis pohon ini, mempunyai berbagai keistimewaan. Contoh, pohon ketapang, tanaman tepi pantai nan rindang. Cepat tumbuh dan kerap dijadikan peneduh di taman-taman dan tepi jalan.
“Pohon ketapang, hampir sama manfaatnya dengan pohon mentangor,” terang Faisal. “Jenis tanaman tepi pantai nan rindang, mudah tumbuh dan berkembang pesat.”
Jenis pohon pucuk merah, katanya, tanaman memiliki kemampuan menyerap karbon dioksida (CO2), atau penyerap polusi udara lebih besar dibandingkan jenis tumbuhan lain. Selain mampu menyerap polusi udara, tanaman ini ternyata bermanfaat bagi kesehatan manusia.
“Kandungan flavonoid antosianin dalam daun berpotensi dikembangkan menjadi teh kesehatan dan antioksidan efektif mengatasi ancaman radikal bebas,” pungkas pejabat bergelar dokter itu. (*andi surya)